Meskipun pemerintah sudah membatalkan (baca: menunda) entah apa namanya kenaikan ataukah penyesuaian ataukah mengurangi subsidi, bbm, semua orang masih belum yakin. Koran, tivi, radio, twiter, internet masih banyak membicarakan. Harga harga kebutuhan pokok yang sudah terlanjur naik pun enggan turun lagi, alasannya cepat atau lambat bbm pasti naik (lho..?!)
Saya bukannya setuju kalau harga bbm naik, hanya perlu persiapan menghadapi perubahan harga bbm beserta para rekan-rekan setianya (listrik, telp, sembako, transport dll) Soalnya gaji saya yang "cukup besar" perlu dilakukan rebudgeter alias penyesuaian alokasi kebutuhan, antara konsumsi, kebutuhan pendidikan anak, cicilan hutang, sumbangan (caillah...) dan juga saya yakin, bahwa saya bukan termasuk yang bakal dikasih BLT sama pemerintah.
Tanggapan saya soal ini, harusnya pemerintah sudah belajar dari pengalaman, meskipun presiden dan menterinya sudah bolak-balik ganti, kalau BBM naik pasti pada ribut. Kalau gaji PNS naik yang ribut cuma pedagang. Kalau habit orang Indonesia seperti itu harusnya dicari cara lain. Yang nggak bikin ribut (minimal orang gak ribut karena sempet mikir). Misalnya naikin harganya cukup Rp.50,- (lima puluh rupiah) saja, tapi tiap bulan naik. Lama-lama sampai juga ke harga normal tanpa subsidi, dan tidak perlu di umumkan secara politis.
Seperti kata koran, ternyata subsidi yang terbesar dinikmati oleh pemilik mobil-mobil pribadi...!? wajar.. mereka mengkonsumsi bbm lebih banyak. Bayangkan 1 mobil menyedot 1 liter bbm untuk setiap 8 km (belum yang mobil mewah, lebih boros !) Sepeda motor 1 liter bisa untuk 25 km ! Nah lho..?! yang pada demo kemarin ngebelain siapa ya ...?
Opsi yang diberikan DPR juga bagus. Dengan melakukan analisa rata-rata kenaikan harga minyak dunia kurun waktu 6 bulan. Cuma pemerintah juga harus hati-hati, bisa-bisa dikerjain spekulan dunia, atau malahan politisi kita sendiri ?
Usulan saya malah begini saja, pemerintah patok berapa milyar liter setahun bbm yang bisa disubsidi, lalu disetiap daerah tunjuk pom bensin mana yang akan diijinkan khusus menjual bbm subsidi, dan pom bensin lainnya menjual bbm tanpa subsidi.
Lalu syarat yang boleh beli bbm di pom subsidi hanya mobil angkutan umum (plat kuning) dan motor dibawah 250 cc. Lainnya monggo di pom bensin biasa dengan harga biasa. Dan bagi para pemilik motor roda dua yang gengsi beli di pom subsidi dan maunya beli di non subsidi yang silahkan malah lebih bagus.
Selanjutnya, untuk setiap daerah batasi kuota penjualan, bila kuota habis maka harus beli yang non subsidi. Kalau setiap hari dibilang habis, maka penjarakan pemilik pom bensinnya (karena dia pasti manipulasi), selain itu juga untuk melatih masyarakat untuk hemat bbm.
Mudah-mudahan dengan begitu semua sadar untuk hemat. Baik itu dalam pemakaian, dalam jor joran beli kendaraan dll. Mudah-mudahan juga Jakarta dan kota kota besar lainnya yang sering macet jadi lancar.... bye...
Jumat, 06 April 2012
Minggu, 19 April 2009
Perkeliruan dunia Pendidikan Indonesia
Hari ini koran Kompas memuat berita tentang larinya siswa siswa pintar Indonesia ke negara tetangga. Diberitakan di Singapura, siswa siswa tersebut diberi peluang yang sangat menjanjikan, mulai dari beasiswa yang pertahunnya mencapai ratusan juta rupiah juga kredit nyaris tanpa bunga.
Setelah selesai sekolah disana, mereka wajib melakukan semacam ikatan dinas untuk bekerja di berbagai perusahaan multinasional dinegeri itu antara 3 sampai 6 tahun. Atau dengan kata lain mereka wajib memberi kontribusi terhadap kemajuan peradaban dinegeri itu. Menurut saya itu hal yang wajar dan harus.
Tapi bagaimana dengan di negeri kita sendiri ? Siswa terpintar konon khabarnya hanya dapat jatah masuk perguruan tinggi negeri tanpa tes dan bea siswa cumja 3 - 5 juta pertahun. Bahkan menurut seorang pejabat dinegeri ini, itu sudah hebat ! dan tentunya masih lebih mahal harga politikus... kasihan pelajar Indonesia..
Bajak membajak sekarang ternyata bukan hanya orang orang profesional, sekarang sudah merambah ke pelajar brilian. Hasil risetnya bakal menjadi hak cipta negeri sana, akhirnya meskipun itu karya putra terbaik kita, nantinya kita mesti beli hasil karyanya dari negeri tetangga.
Memang di Indonesia banyak yang ironis. Dan ini harus menjadi perhatian bagi semua kalangan termasuk Presiden dan para pejabat yang berkompeten. Termauk kemungkinannya terhadap peninjauan kembali terhadap UU sistem pendidikan nasional serta budget untuk dunia pendidikan di Indonesia. Bila perlu juga meniadakan sistim BLT untuk dialihkan menjadi modal pendidikan dan kesehatan.
Mudah-mudahan yang membaca dan mendengar bisa tergerak. Kapan kita akan bangun dari keterpurukan jika yang dipikiri hanya para politisi, toh kebanyakannya berakhir di penjara kalo enggak RSJ... lagi lagi yg ironis he he...
Setelah selesai sekolah disana, mereka wajib melakukan semacam ikatan dinas untuk bekerja di berbagai perusahaan multinasional dinegeri itu antara 3 sampai 6 tahun. Atau dengan kata lain mereka wajib memberi kontribusi terhadap kemajuan peradaban dinegeri itu. Menurut saya itu hal yang wajar dan harus.
Tapi bagaimana dengan di negeri kita sendiri ? Siswa terpintar konon khabarnya hanya dapat jatah masuk perguruan tinggi negeri tanpa tes dan bea siswa cumja 3 - 5 juta pertahun. Bahkan menurut seorang pejabat dinegeri ini, itu sudah hebat ! dan tentunya masih lebih mahal harga politikus... kasihan pelajar Indonesia..
Bajak membajak sekarang ternyata bukan hanya orang orang profesional, sekarang sudah merambah ke pelajar brilian. Hasil risetnya bakal menjadi hak cipta negeri sana, akhirnya meskipun itu karya putra terbaik kita, nantinya kita mesti beli hasil karyanya dari negeri tetangga.
Memang di Indonesia banyak yang ironis. Dan ini harus menjadi perhatian bagi semua kalangan termasuk Presiden dan para pejabat yang berkompeten. Termauk kemungkinannya terhadap peninjauan kembali terhadap UU sistem pendidikan nasional serta budget untuk dunia pendidikan di Indonesia. Bila perlu juga meniadakan sistim BLT untuk dialihkan menjadi modal pendidikan dan kesehatan.
Mudah-mudahan yang membaca dan mendengar bisa tergerak. Kapan kita akan bangun dari keterpurukan jika yang dipikiri hanya para politisi, toh kebanyakannya berakhir di penjara kalo enggak RSJ... lagi lagi yg ironis he he...
Sabtu, 21 Februari 2009
Mengapa Kita krisis Pangan sekaligus Krisis Energi ?
Dalam kerangka krisis, maka krisis energi berdampingan dengan krisis pangan. Hal ini disebabkan perburuan energi alternatif terfokus didaratan saja. Sebagai contoh, pengembangan lahan kelapa sawit untuk mennghasilkan CPO, jarak pagar untuk menghasilkan biofuel/biodiesel, tebu untuk menghasilkan tetes yang selain dijadikan gula juga menjadi sampingan biofuel lewat media ethanol, singkong untuk menjadi ethanol. Artinya setiap jengkal pengembangan lahan untuk mencari energi baru akan mengurangi lahan untuk memproduksi pangan.
Pengembangan energi alternatif kini sudah saatnya untuk diurangi didaratan, selanjutnya lebih diarahkan diarea danau dan lautan, agar tidak mengurangi ketersediaan lahan untuk memproduksi pangan. Indonesia memiliki garis pantai yang sangat luas, tidak kurang dari 80.000 km. Belum lagi luas wilayahnya.
Wilayah lautan yang sangat potensial adalah yang menghadap kebarat dan selatan, artinya pesisir barat Sumatera dan pesisir selatan Jawa.
Pemanfaatan lautan untuk menghasilkan energi tidak akan menyebabkan polusi dan erosi maupun kerusakan lingkungan. Dengan perubahan ini maka lahan-lahan kritis dapat dikembalikan pada fungsinya yaitu sebagai paru-paru dunia.
energi-energi yang dapat dikembangkan sepanjang pesisir antara lain pembangkit listrik energi gelombang laut, pembangkit listrik tenaga angin, pembangkit listrik tenaga surya, pengembangan atau budidaya algae dan rumput laut untuk menghasilkan biodiesel dan biofuel.
Mudah-mudahan ada pioner Indonesia yang mau bergerak memulainya, entah itu dari pemerintahan, akademisi, praktisi dan juga LSM-LSM yang peduli kemanusiaan, bukannya peduli demo dan anarkis....
Pengembangan energi alternatif kini sudah saatnya untuk diurangi didaratan, selanjutnya lebih diarahkan diarea danau dan lautan, agar tidak mengurangi ketersediaan lahan untuk memproduksi pangan. Indonesia memiliki garis pantai yang sangat luas, tidak kurang dari 80.000 km. Belum lagi luas wilayahnya.
Wilayah lautan yang sangat potensial adalah yang menghadap kebarat dan selatan, artinya pesisir barat Sumatera dan pesisir selatan Jawa.
Pemanfaatan lautan untuk menghasilkan energi tidak akan menyebabkan polusi dan erosi maupun kerusakan lingkungan. Dengan perubahan ini maka lahan-lahan kritis dapat dikembalikan pada fungsinya yaitu sebagai paru-paru dunia.
energi-energi yang dapat dikembangkan sepanjang pesisir antara lain pembangkit listrik energi gelombang laut, pembangkit listrik tenaga angin, pembangkit listrik tenaga surya, pengembangan atau budidaya algae dan rumput laut untuk menghasilkan biodiesel dan biofuel.
Mudah-mudahan ada pioner Indonesia yang mau bergerak memulainya, entah itu dari pemerintahan, akademisi, praktisi dan juga LSM-LSM yang peduli kemanusiaan, bukannya peduli demo dan anarkis....
Rabu, 29 Oktober 2008
Masih Soal Krisis
Hari ini saya baca di koran Kompas (29 Oktober 2008) hal. 17 berjudul Pertanian sulit jadi penyelamat. Tidak seperti pada waktu krisis tahun 1997/1998 sektor pertanian malah jadi penyelamat karena mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak. Dan kini persoalan bukan pada pennyerapan tenaga kerja, melainkan jatuhnya harga komoditas pertanian.
Indonesia sejak dulu memang dikenal sebagai negara agraris. Dan berabad-abad lalu penjajah masuk ke NUsantara karena rempah rempahnya. Sebenarnya persoalan krisis Indonesia dapat dikenali dengan mudah yakni karena kita tidak konsisten dan tidak percaya pada kemampuan sumber daya alam kita untuk memakmurkan bangsa ini.
Kasus rontoknya harga CPO (de facto hasil dari sawit) tidak beda dengan case tahun 1995-1997 pada jatuhnya harga cengkeh. yang menjadi masalah adalah boomingnya harga suatu komoditas tidak pernah diantisipasi dengan proses lanjutan atas komoditas tersebut. Yang saya maksud yaitu seperti cengkeh harusnya sudah ada persiapan berupa pabrik pengolah minyak cengkeh. Nah sekarang sawit, CPO turun harganya, seharusnya sudah ada pabrik yang mulai menyangganya misalnya langsung diolah menjadi minyak goreng dan juga biodiesel.
Jika CPO dibuat minyak goreng semua, mungkin kita masih punya gain atau bersaing dengan negara lain atau setidaknya minyak goreng di Indonesia tidak terlalu mahal. Kemudian CPO bisa dijadikan biodiesel, paling tidak ini dapat membantu transportasi yang sekarang juga sedang gonjang ganjing karena BBM satu ini sering langka dipasaran.
Rasanya pemerintah perlu memutuskan (bukan memikirkan lagi, ntar telat terus) kalau perlu 75% produksi CPO di Indonesia harus diarahkan menjadi biodiesel. Hal ini selain memenuhi kebutuhan BBM juga membantu petani agar hasil panennya terserap oleh pabrik CPO, dan produksi CPO segera terserap ke Pabrik Biodiesel selanjutnya biodiesel terserap oleh konsumen khususnya untuk kebutuhan transportasi baik darat dan laut, yang pada akhirnya semuanya dapat berjalan lancar.
Lho, impor BBM nya mau dikemakan ? Gak usah dipikirin itu urusannya Pertamina, mau diminum sendiri juga gak apa apa he he he Nah atau malah Pertamina yang harusnya invest di Biodiesel lagi-lagi khan urusan BBM, jadi gak perlu dipusingin biaya eksplorasi plus quota impor.
Nah itu pikiran gue. BTW, saya mau antri BBM dulu, dari pada besok gak bisa jalan he he he
Indonesia sejak dulu memang dikenal sebagai negara agraris. Dan berabad-abad lalu penjajah masuk ke NUsantara karena rempah rempahnya. Sebenarnya persoalan krisis Indonesia dapat dikenali dengan mudah yakni karena kita tidak konsisten dan tidak percaya pada kemampuan sumber daya alam kita untuk memakmurkan bangsa ini.
Kasus rontoknya harga CPO (de facto hasil dari sawit) tidak beda dengan case tahun 1995-1997 pada jatuhnya harga cengkeh. yang menjadi masalah adalah boomingnya harga suatu komoditas tidak pernah diantisipasi dengan proses lanjutan atas komoditas tersebut. Yang saya maksud yaitu seperti cengkeh harusnya sudah ada persiapan berupa pabrik pengolah minyak cengkeh. Nah sekarang sawit, CPO turun harganya, seharusnya sudah ada pabrik yang mulai menyangganya misalnya langsung diolah menjadi minyak goreng dan juga biodiesel.
Jika CPO dibuat minyak goreng semua, mungkin kita masih punya gain atau bersaing dengan negara lain atau setidaknya minyak goreng di Indonesia tidak terlalu mahal. Kemudian CPO bisa dijadikan biodiesel, paling tidak ini dapat membantu transportasi yang sekarang juga sedang gonjang ganjing karena BBM satu ini sering langka dipasaran.
Rasanya pemerintah perlu memutuskan (bukan memikirkan lagi, ntar telat terus) kalau perlu 75% produksi CPO di Indonesia harus diarahkan menjadi biodiesel. Hal ini selain memenuhi kebutuhan BBM juga membantu petani agar hasil panennya terserap oleh pabrik CPO, dan produksi CPO segera terserap ke Pabrik Biodiesel selanjutnya biodiesel terserap oleh konsumen khususnya untuk kebutuhan transportasi baik darat dan laut, yang pada akhirnya semuanya dapat berjalan lancar.
Lho, impor BBM nya mau dikemakan ? Gak usah dipikirin itu urusannya Pertamina, mau diminum sendiri juga gak apa apa he he he Nah atau malah Pertamina yang harusnya invest di Biodiesel lagi-lagi khan urusan BBM, jadi gak perlu dipusingin biaya eksplorasi plus quota impor.
Nah itu pikiran gue. BTW, saya mau antri BBM dulu, dari pada besok gak bisa jalan he he he
Kamis, 09 Oktober 2008
KRISIS MELANDA NEGERI PAMAN SAM
Siapa sangka negara paling adidaya masih bisa tembus dihajar krisis ? apa ada yang salah ?
Ya pasti ada yang salah, mereka pasti lupa diri saking banyaknya nguras kekayaan dari negara lain langsung dihantam badai. Ya badai Gustav, badai Ike ee sekarang badai krisis finansial.
Btw, banyak khabar beredar di Indonesia, katanya kondisi aman aman saja. Tapi ternyata para pemimpin dan pakar pada pontang panting, artinya khan gak aman. Sampai sampai transaksi BEI di suspend. Untuk kebijakan terakhir boleh juga, soalnya kalo gak disikat gitu, bakalan anjlok tuh kurs kita.
Lho kenapa ? Lha iyalah, siapa sih yang paling gede invest di bursa, kalau gak orang2x sono. Cuma aja dengan mandegnya transaksi di BEI perputaran perbankan juga rada seret. Nah ini waktunya nurunin RATE. Harusnya BI langsung taking action.
Menurut saya kita mah gak perlu panik (waspada harus), karena kita dah kebal ama krisis. Mulai dari krisis ekonomi, krisis energi, krisis pangan sampai krisis kepercayaan dah dialami semua. Mudah-mudahan AS bisa belajar dari kita tentang hal ini, bukannya nguras SDA nya aja.
Eeh dah dulu ah...
Ya pasti ada yang salah, mereka pasti lupa diri saking banyaknya nguras kekayaan dari negara lain langsung dihantam badai. Ya badai Gustav, badai Ike ee sekarang badai krisis finansial.
Btw, banyak khabar beredar di Indonesia, katanya kondisi aman aman saja. Tapi ternyata para pemimpin dan pakar pada pontang panting, artinya khan gak aman. Sampai sampai transaksi BEI di suspend. Untuk kebijakan terakhir boleh juga, soalnya kalo gak disikat gitu, bakalan anjlok tuh kurs kita.
Lho kenapa ? Lha iyalah, siapa sih yang paling gede invest di bursa, kalau gak orang2x sono. Cuma aja dengan mandegnya transaksi di BEI perputaran perbankan juga rada seret. Nah ini waktunya nurunin RATE. Harusnya BI langsung taking action.
Menurut saya kita mah gak perlu panik (waspada harus), karena kita dah kebal ama krisis. Mulai dari krisis ekonomi, krisis energi, krisis pangan sampai krisis kepercayaan dah dialami semua. Mudah-mudahan AS bisa belajar dari kita tentang hal ini, bukannya nguras SDA nya aja.
Eeh dah dulu ah...
Senin, 08 September 2008
Menyiasati Mahalnya Energi
Setelah subsidi BBM yang dikurangi, kini giliran Gas Elpiji akan dinaikkan. Strategi pemerintah memang jitu, setelah minyak tanah "ditiadakan" masyarakat digiring untuk menggunakan gas elpiji dengan dalih lebih murah dari minyak tanah.
Setelah masyarakat pindah ke elpiji, tiba gilirannya elpiji harus dinaikkan dengan alasan selama ini merugi terus. Weleh-weleh, kok yo pemerintah ni ambil untung dari rakyatnya terlalu gede, dan gak ada yang namanya solusi yang lebih murah apalagi gratis...
Nah salah satu solusi untuk masalah gas, khususnya untuk daerah pedesaan juga kota, yaitu mengolah sampah dan kotoran lainnya menjadi biogas. Gampang buatnya dan gratis gasnya. Berikut saya kutip dari beberapa situs yang saya sendiri sudah lupa, cara pembuatan biogas dari kotoran ternak, mudah-mudahan bermanfaat. Dan kalau bisa, agar dipraktekkan dan dsebarluaskan.
Yang pertama dilakukan adalah menyediakan wadah atau bejana untuk mengolah kotoran organik menjadi biogas. Kalau hanya diperuntukkan secara pribadi, cukup menggunakan bak yang terbuat dari semen yang cukup lebar atau drum bekas yang masih cukup kuat. Selain itu perlunya kesediaan kotoran hewan (baik sapi maupun kambing) yang merupakan bahan baku biogas. Kalau sulit mencari kotoran hewan, maka percuma aja. Untuk itu diperlukan survey terlebih dahulu. Atau kalau mau sedikit niat, septik tank bisa dimanfaatkan seperti yang dilakukan di India.
Proses kedua adalah mencampurkan kotoran organik tersebut dengan air. Biasanya campuran antara kotoran dan air menggunakan perbandingan 1:1 atau bisa juga menggunakan perbandingan 1:1,5. Air berperan sangat penting di dalam proses biologis pembuatan biogas. Artinya jangan terlalu banyak (berlebihan) juga jangan terlalu sedikit (kekurangan).
Temperatur selama proses berlangsung, karena ini menyangkut "kesenangan" hidup bakteri pemroses biogas antara 27 - 28 derajat celcius. Dengan temperatur itu proses pembuatan biogas akan berjalan sesuai dengan waktunya. Tetapi berbeda kalau nilai temperatur terlalu rendah (dingin), maka waktu untuk menjadi biogas akan lebih lama.
Kehadiran jasad pemroses, atau jasad yang mempunyai kemampuan untuk menguraikan bahan-bahan yang akhirnya membentuk CH4 (gas metan) dan CO2. Dalam kotoran kandang, lumpur selokan ataupun sampah dan jerami, serta bahan-bahan buangan lainnya, banyak jasad renik, baik bakteri ataupun jamur pengurai bahan-bahan tersebut didapatkan. Tapi yang menjadi masalah adalah hasil uraiannya belum tentu menjadi CH4 yang diharapkan serta mempunyai kemampuan sebagai bahan bakar.
Untuk mendapatkan biogas yang diinginkan, bak penampung (bejana) kotoran organik harus bersifat anaerobik. Dengan kata lain, tangki itu tak boleh ada oksigen dan udara yang masuk sehingga sampah-sampah organik yang dimasukkan ke dalam bioreaktor bisa dikonversi mikroba. Keberadaan udara menyebabkan gas CH4 tidak akan terbentuk. Untuk itu maka bejana pembuat biogas harus dalam keadaan tertutup rapat.
Setelah proses ini selesai, maka selama dalam kurun waktu 1 minggu didiamkan, maka gas metan sudah terbentuk dan siap dialirkan untuk keperluan memasak. Namun ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memanfaatkan biogas. Seperti misalnya sifat biogas yang tidak berwarna, tidak berbau dan sangat cepat menyala. Karenanya kalau lampu atau kompor mempunyai kebocoran, akan sulit diketahui secepatnya. Berbeda dengan sifat gas lainnya, sepeti elpiji, maka karena berbau akan cepat dapat diketahui kalau terjadi kebocoran pada alat yang digunakan. Sifat cepat menyala biogas, juga merupakan masalah tersendiri. Artinya dari segi keselamatan pengguna. Sehingga tempat pembuatan atau penampungan biogas harus selalu berada jauh dari sumber api yang kemungkinan dapat menyebabkan ledakan kalau tekanannya besar.
Setelah masyarakat pindah ke elpiji, tiba gilirannya elpiji harus dinaikkan dengan alasan selama ini merugi terus. Weleh-weleh, kok yo pemerintah ni ambil untung dari rakyatnya terlalu gede, dan gak ada yang namanya solusi yang lebih murah apalagi gratis...
Nah salah satu solusi untuk masalah gas, khususnya untuk daerah pedesaan juga kota, yaitu mengolah sampah dan kotoran lainnya menjadi biogas. Gampang buatnya dan gratis gasnya. Berikut saya kutip dari beberapa situs yang saya sendiri sudah lupa, cara pembuatan biogas dari kotoran ternak, mudah-mudahan bermanfaat. Dan kalau bisa, agar dipraktekkan dan dsebarluaskan.
Yang pertama dilakukan adalah menyediakan wadah atau bejana untuk mengolah kotoran organik menjadi biogas. Kalau hanya diperuntukkan secara pribadi, cukup menggunakan bak yang terbuat dari semen yang cukup lebar atau drum bekas yang masih cukup kuat. Selain itu perlunya kesediaan kotoran hewan (baik sapi maupun kambing) yang merupakan bahan baku biogas. Kalau sulit mencari kotoran hewan, maka percuma aja. Untuk itu diperlukan survey terlebih dahulu. Atau kalau mau sedikit niat, septik tank bisa dimanfaatkan seperti yang dilakukan di India.
Proses kedua adalah mencampurkan kotoran organik tersebut dengan air. Biasanya campuran antara kotoran dan air menggunakan perbandingan 1:1 atau bisa juga menggunakan perbandingan 1:1,5. Air berperan sangat penting di dalam proses biologis pembuatan biogas. Artinya jangan terlalu banyak (berlebihan) juga jangan terlalu sedikit (kekurangan).
Temperatur selama proses berlangsung, karena ini menyangkut "kesenangan" hidup bakteri pemroses biogas antara 27 - 28 derajat celcius. Dengan temperatur itu proses pembuatan biogas akan berjalan sesuai dengan waktunya. Tetapi berbeda kalau nilai temperatur terlalu rendah (dingin), maka waktu untuk menjadi biogas akan lebih lama.
Kehadiran jasad pemroses, atau jasad yang mempunyai kemampuan untuk menguraikan bahan-bahan yang akhirnya membentuk CH4 (gas metan) dan CO2. Dalam kotoran kandang, lumpur selokan ataupun sampah dan jerami, serta bahan-bahan buangan lainnya, banyak jasad renik, baik bakteri ataupun jamur pengurai bahan-bahan tersebut didapatkan. Tapi yang menjadi masalah adalah hasil uraiannya belum tentu menjadi CH4 yang diharapkan serta mempunyai kemampuan sebagai bahan bakar.
Untuk mendapatkan biogas yang diinginkan, bak penampung (bejana) kotoran organik harus bersifat anaerobik. Dengan kata lain, tangki itu tak boleh ada oksigen dan udara yang masuk sehingga sampah-sampah organik yang dimasukkan ke dalam bioreaktor bisa dikonversi mikroba. Keberadaan udara menyebabkan gas CH4 tidak akan terbentuk. Untuk itu maka bejana pembuat biogas harus dalam keadaan tertutup rapat.
Setelah proses ini selesai, maka selama dalam kurun waktu 1 minggu didiamkan, maka gas metan sudah terbentuk dan siap dialirkan untuk keperluan memasak. Namun ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memanfaatkan biogas. Seperti misalnya sifat biogas yang tidak berwarna, tidak berbau dan sangat cepat menyala. Karenanya kalau lampu atau kompor mempunyai kebocoran, akan sulit diketahui secepatnya. Berbeda dengan sifat gas lainnya, sepeti elpiji, maka karena berbau akan cepat dapat diketahui kalau terjadi kebocoran pada alat yang digunakan. Sifat cepat menyala biogas, juga merupakan masalah tersendiri. Artinya dari segi keselamatan pengguna. Sehingga tempat pembuatan atau penampungan biogas harus selalu berada jauh dari sumber api yang kemungkinan dapat menyebabkan ledakan kalau tekanannya besar.
Langganan:
Postingan (Atom)

