Minggu, 19 April 2009

Perkeliruan dunia Pendidikan Indonesia

Hari ini koran Kompas memuat berita tentang larinya siswa siswa pintar Indonesia ke negara tetangga. Diberitakan di Singapura, siswa siswa tersebut diberi peluang yang sangat menjanjikan, mulai dari beasiswa yang pertahunnya mencapai ratusan juta rupiah juga kredit nyaris tanpa bunga.

Setelah selesai sekolah disana, mereka wajib melakukan semacam ikatan dinas untuk bekerja di berbagai perusahaan multinasional dinegeri itu antara 3 sampai 6 tahun. Atau dengan kata lain mereka wajib memberi kontribusi terhadap kemajuan peradaban dinegeri itu. Menurut saya itu hal yang wajar dan harus.

Tapi bagaimana dengan di negeri kita sendiri ? Siswa terpintar konon khabarnya hanya dapat jatah masuk perguruan tinggi negeri tanpa tes dan bea siswa cumja 3 - 5 juta pertahun. Bahkan menurut seorang pejabat dinegeri ini, itu sudah hebat ! dan tentunya masih lebih mahal harga politikus... kasihan pelajar Indonesia..

Bajak membajak sekarang ternyata bukan hanya orang orang profesional, sekarang sudah merambah ke pelajar brilian. Hasil risetnya bakal menjadi hak cipta negeri sana, akhirnya meskipun itu karya putra terbaik kita, nantinya kita mesti beli hasil karyanya dari negeri tetangga.

Memang di Indonesia banyak yang ironis. Dan ini harus menjadi perhatian bagi semua kalangan termasuk Presiden dan para pejabat yang berkompeten. Termauk kemungkinannya terhadap peninjauan kembali terhadap UU sistem pendidikan nasional serta budget untuk dunia pendidikan di Indonesia. Bila perlu juga meniadakan sistim BLT untuk dialihkan menjadi modal pendidikan dan kesehatan.

Mudah-mudahan yang membaca dan mendengar bisa tergerak. Kapan kita akan bangun dari keterpurukan jika yang dipikiri hanya para politisi, toh kebanyakannya berakhir di penjara kalo enggak RSJ... lagi lagi yg ironis he he...

Sabtu, 21 Februari 2009

Mengapa Kita krisis Pangan sekaligus Krisis Energi ?

Dalam kerangka krisis, maka krisis energi berdampingan dengan krisis pangan. Hal ini disebabkan perburuan energi alternatif terfokus didaratan saja. Sebagai contoh, pengembangan lahan kelapa sawit untuk mennghasilkan CPO, jarak pagar untuk menghasilkan biofuel/biodiesel, tebu untuk menghasilkan tetes yang selain dijadikan gula juga menjadi sampingan biofuel lewat media ethanol, singkong untuk menjadi ethanol. Artinya setiap jengkal pengembangan lahan untuk mencari energi baru akan mengurangi lahan untuk memproduksi pangan.

Pengembangan energi alternatif kini sudah saatnya untuk diurangi didaratan, selanjutnya lebih diarahkan diarea danau dan lautan, agar tidak mengurangi ketersediaan lahan untuk memproduksi pangan. Indonesia memiliki garis pantai yang sangat luas, tidak kurang dari 80.000 km. Belum lagi luas wilayahnya.

Wilayah lautan yang sangat potensial adalah yang menghadap kebarat dan selatan, artinya pesisir barat Sumatera dan pesisir selatan Jawa.

Pemanfaatan lautan untuk menghasilkan energi tidak akan menyebabkan polusi dan erosi maupun kerusakan lingkungan. Dengan perubahan ini maka lahan-lahan kritis dapat dikembalikan pada fungsinya yaitu sebagai paru-paru dunia.

energi-energi yang dapat dikembangkan sepanjang pesisir antara lain pembangkit listrik energi gelombang laut, pembangkit listrik tenaga angin, pembangkit listrik tenaga surya, pengembangan atau budidaya algae dan rumput laut untuk menghasilkan biodiesel dan biofuel.

Mudah-mudahan ada pioner Indonesia yang mau bergerak memulainya, entah itu dari pemerintahan, akademisi, praktisi dan juga LSM-LSM yang peduli kemanusiaan, bukannya peduli demo dan anarkis....