Dalam kerangka krisis, maka krisis energi berdampingan dengan krisis pangan. Hal ini disebabkan perburuan energi alternatif terfokus didaratan saja. Sebagai contoh, pengembangan lahan kelapa sawit untuk mennghasilkan CPO, jarak pagar untuk menghasilkan biofuel/biodiesel, tebu untuk menghasilkan tetes yang selain dijadikan gula juga menjadi sampingan biofuel lewat media ethanol, singkong untuk menjadi ethanol. Artinya setiap jengkal pengembangan lahan untuk mencari energi baru akan mengurangi lahan untuk memproduksi pangan.
Pengembangan energi alternatif kini sudah saatnya untuk diurangi didaratan, selanjutnya lebih diarahkan diarea danau dan lautan, agar tidak mengurangi ketersediaan lahan untuk memproduksi pangan. Indonesia memiliki garis pantai yang sangat luas, tidak kurang dari 80.000 km. Belum lagi luas wilayahnya.
Wilayah lautan yang sangat potensial adalah yang menghadap kebarat dan selatan, artinya pesisir barat Sumatera dan pesisir selatan Jawa.
Pemanfaatan lautan untuk menghasilkan energi tidak akan menyebabkan polusi dan erosi maupun kerusakan lingkungan. Dengan perubahan ini maka lahan-lahan kritis dapat dikembalikan pada fungsinya yaitu sebagai paru-paru dunia.
energi-energi yang dapat dikembangkan sepanjang pesisir antara lain pembangkit listrik energi gelombang laut, pembangkit listrik tenaga angin, pembangkit listrik tenaga surya, pengembangan atau budidaya algae dan rumput laut untuk menghasilkan biodiesel dan biofuel.
Mudah-mudahan ada pioner Indonesia yang mau bergerak memulainya, entah itu dari pemerintahan, akademisi, praktisi dan juga LSM-LSM yang peduli kemanusiaan, bukannya peduli demo dan anarkis....
Sabtu, 21 Februari 2009
Langganan:
Postingan (Atom)

