Hari ini koran Kompas memuat berita tentang larinya siswa siswa pintar Indonesia ke negara tetangga. Diberitakan di Singapura, siswa siswa tersebut diberi peluang yang sangat menjanjikan, mulai dari beasiswa yang pertahunnya mencapai ratusan juta rupiah juga kredit nyaris tanpa bunga.
Setelah selesai sekolah disana, mereka wajib melakukan semacam ikatan dinas untuk bekerja di berbagai perusahaan multinasional dinegeri itu antara 3 sampai 6 tahun. Atau dengan kata lain mereka wajib memberi kontribusi terhadap kemajuan peradaban dinegeri itu. Menurut saya itu hal yang wajar dan harus.
Tapi bagaimana dengan di negeri kita sendiri ? Siswa terpintar konon khabarnya hanya dapat jatah masuk perguruan tinggi negeri tanpa tes dan bea siswa cumja 3 - 5 juta pertahun. Bahkan menurut seorang pejabat dinegeri ini, itu sudah hebat ! dan tentunya masih lebih mahal harga politikus... kasihan pelajar Indonesia..
Bajak membajak sekarang ternyata bukan hanya orang orang profesional, sekarang sudah merambah ke pelajar brilian. Hasil risetnya bakal menjadi hak cipta negeri sana, akhirnya meskipun itu karya putra terbaik kita, nantinya kita mesti beli hasil karyanya dari negeri tetangga.
Memang di Indonesia banyak yang ironis. Dan ini harus menjadi perhatian bagi semua kalangan termasuk Presiden dan para pejabat yang berkompeten. Termauk kemungkinannya terhadap peninjauan kembali terhadap UU sistem pendidikan nasional serta budget untuk dunia pendidikan di Indonesia. Bila perlu juga meniadakan sistim BLT untuk dialihkan menjadi modal pendidikan dan kesehatan.
Mudah-mudahan yang membaca dan mendengar bisa tergerak. Kapan kita akan bangun dari keterpurukan jika yang dipikiri hanya para politisi, toh kebanyakannya berakhir di penjara kalo enggak RSJ... lagi lagi yg ironis he he...
Minggu, 19 April 2009
Langganan:
Postingan (Atom)

